Berbagai cara dapat ditempuh untuk menetapkan bentuk pelembagaan satuan pengolahan data. Akan tetapi cara apapun yang ditempuh oleh manajemen dalam pelembagaan satuan kerja ini, prinsip yang sangat mendasar yang harus dipegang teguh ialah bahwa manajer tertinggi yang memimpin satuan kerja tersebut haruslah sedekat mungkin dengan para pengambil keputusan kunci, yaitu para anggota manajemen pucak. Terdapat paling sedikit tiga alasn yang sangat kuat mengapa demikian halnya. Pertama : Satuan kerja pengolahan data perlu diberi “status terhormat” dan berada pada eselon organisasi yang tinggi. Kedua : Manajer tertinggi dalam lingkungan satuan kerja pengolah data mutlak perlu mengetahui berbagai berbagai keputusan strategis yang di ambil oleh para manajemen puncak memahami latar belakan keputusan tersebut, bahkan diharapkan turut berperan dalam mengambil keputusan tersebut. Ketiga : Dengan statusnya yang tinggi dan pengetahuan implikasi berbagai keputusan yang diambil, para pimpinan berbagai komponen dan satuan kerja dalam lingkungan organisasi akan bersikap terbuka, artinya bersedia memberikan berbagai data untuk diolah.
Yang tidak kalah pentingnya untuk diperhatikan ialah pola pengambilan keputusan yang berlaku organisasi. Tergantung pada gaya manajerial yang dominan dalam penerapannya, ada pola pengambilan keputusan yang sifatnya sentralistik, akan tetapi ada pula yang berssifat desentralistik. Pola desentralistiklah yang sesungguhnya lebih tepat digunakan, sebab jika pola sentralistik tetap diterapkan, maka manajemen puncak akan terus mempertahankan gaya kepemimpinannya yang bersifat otokratik.
Audit manajemen pengolahan data dimaksudkan untuk meneliti dan mempelajari konfigurasi organisasional tersebut. Sasaran utamanya adalah untuk memperoleh bahan yang akurat dan factual tentang tepat tidaknya struktur organisasi satuan kerja pengolahan data tersebut. Selanjutnya untuk mencapai sasaran yang efisien, efektivitas, dan produktivitas kerja dapat dicapai, audit manajemen pengolah data harus pula memahami struktur organisasi perusahaan sebagai keseluruhan termasuk stratifikasi atau jenjang pengambilan keputusan yang harus didukung oleh satuan kerja pengolahan data.
Yang tidak kalah pentingnya untuk diperhatikan ialah pola pengambilan keputusan yang berlaku organisasi. Tergantung pada gaya manajerial yang dominan dalam penerapannya, ada pola pengambilan keputusan yang sifatnya sentralistik, akan tetapi ada pula yang berssifat desentralistik. Pola desentralistiklah yang sesungguhnya lebih tepat digunakan, sebab jika pola sentralistik tetap diterapkan, maka manajemen puncak akan terus mempertahankan gaya kepemimpinannya yang bersifat otokratik.
Audit manajemen pengolahan data dimaksudkan untuk meneliti dan mempelajari konfigurasi organisasional tersebut. Sasaran utamanya adalah untuk memperoleh bahan yang akurat dan factual tentang tepat tidaknya struktur organisasi satuan kerja pengolahan data tersebut. Selanjutnya untuk mencapai sasaran yang efisien, efektivitas, dan produktivitas kerja dapat dicapai, audit manajemen pengolah data harus pula memahami struktur organisasi perusahaan sebagai keseluruhan termasuk stratifikasi atau jenjang pengambilan keputusan yang harus didukung oleh satuan kerja pengolahan data.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar